Selasa, 10 Juni 2014

The Six Symbol: Bab 4 - Eliana Melawan Gadis Tak Dikenal

Judul         : THE SIX SYMBOL
Pengarang : Eni Hariani
Genre        : Action, Fantasy, Supernatural, Sci-fi
Rate          : Remaja
=================================================================
The Six Symbol Novel Indonesia and English Version
© Eni Hariani
Dilarang mengcopy-paste isi novel ini
=================================================================




BAB 4

ELIANA MELAWAN GADIS TAK DIKENAL





 “Dari mana kau tahu aku bukanlah temanmu?” kata wanita itu, yang bernama Angelic Metalica yang tadi menyamar menjadi Emy Watson, dengan nada datar.
“Mudah. Emy itu orangnya takut gelap dan takut sendirian, jadi tak mungkin dengan entengnya ia menyambutku datang. Pastinya ia akan histeris dan memelukku. Ya...palingan dia akan mengutukku karena aku tak segera kembali.”
“Kau orang yang sangat meneliti kepribadian orang lain.”
“Tidak. Aku bukan peneliti. Emy itu temanku saat aku SD dan kami bersebelahan rumah. Tentu saja aku tahu sedikit tentang kepribadiannya, ya...walaupun dia itu anak baru di kotaku waktu itu.”
“Persahabatan kalian sangat erat.”
“Ya begitulah,” kata Eliana. “Nah sekarang, giliranmu menjawab pertanyaanku.”
“Hmph. Kau orang yang tipenya serius, to the point, dan...”
“Sudahlah. Tak usah memperpanjang percakapan ini. Aku perlu informasi itu.”
“Che. Benar-benar kau ini...,” kata Angelic. “Tiga bulan dari sekarang, kakekmu akan ada di kota Titanium. Dia akan bertemu dengan seseorang yang bernama Abdi Kusuma. Abdi Kusuma adalah pensiunan Marionette yang memiliki jaringan informasi yang kuat,”
“Tiga bulan dari sekarang....pada tanggal berapa itu?”
“Tanggal 6 September.”
“What?! Itu kan tanggal kelahiranku!”
“Mungkin kakekmu ingin merayakan ulangtahunmu yang ke-15.”
“Mm...bisa jadi.”
“Lalu apa rencanamu?”
“Sudah jelas. Aku akan bertanya tentang enam simbol yang ada di dalam diriku dan apa sangkut pautnya dengan Blaze Spirit.”
Angelica menatap Eliana cukup lama. “Boleh aku beri saran?”
“Tentu.”
“Urungkan niatmu.”
“Apa?!” Eliana bangkit dari ranjangnya.
“Kau sebaiknya jangan pergi lebih jauh lagi. Aku takut akan-”
“Aku tahu. Semua keputusan pasti ada resikonya.”
“Kalau kau sudah tahu lalu kenapa...?”
“Kak Angelic, coba seandainya kakak di posisi saya, apakah kakak akan berdiam diri saja?”
Angelic tak bisa menjawan. Dia menurunkan pandangannya.
“Tidak bukan?” ulang Eliana.
Angelic menaikkan pandangannya lagi, menatap seorang gadis yang tinggal beberapa bulan lagi akan menjadi gadis remaja berusia 15 tahun.
“Aku ingin tahu, bagaimana kau bisa yakin kalau kakekmu itu masih hidup?”
“Aku tak menitikkan air mata di depan jasadnya.”
“Apa itu bisa dijadikan suatu alasan yang kuat?”
“Aku orang yang tak mudah menangis dan tersenyum. Makanya aku bisa mengetahui kalau kakekku masih hidup.”
“Hah..! Kau ini memang aneh dan penuh misteri.”
Angelic kemudian mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku bajunya dan di lemparkan ke arah Eliana.
“Kunci apa ini?” tanya Eliana.
“Itu kunci ruangan yang kupakai untuk memindahkan semua murid baru dari serangan para shadow. Berterima kasihlah karena aku masih punya hati kepada manusia.”
“Bukankah itu memang tugasmu?”
“Apa maksudmu?”
Eliana menyunggingkan sebuah senyuman. “Jangan berlagak bodoh. Aku tahu siapa kamu.”
Angelic sedikit kaget namun hal itu diabaikannya.
“Sepertinya tugasku sudah selesai.”
“Tunggu,” cegat Eliana.
“Hm? Apa lagi?”
“Apa kau ini...benar-benar seorang shadow?”
“Apa yang membuatmu bertanya seperti itu?”
“Yang kutahu, shadow adalah makhluk yang tercipta dari sekumpulan emosi manusia.”
“Ya, itu benar.”
“Lalu...kau ini apa? Manusia atau shadow?”
“.... Keduanya.”
Eliana terdiam. Ia nampak bingung ingin berkata apa.
“Akan kujelaskan dengan singkat. Shadow terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah yang tercipta murni dari emosi manusia. Sedangkan yang jenis kedua adalah hasil manusia yang dimanipulasi menjadi seorang shadow.”
Eliana memiringkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang dikatakan Angelic.
“Aku tahu kau masih belum paham. Nanti juga kamu akan paham. Di akademi mengajarkan hal itu.”
Angelica membuka jendela kamar Eliana. Mengubah wujudnya menjadi sesosok shadow bersayap, mirip seperti seekor kelelawar.
“Oh ya, aku minta maaf atas sikap peliharaanku yang telah menelan dua temanmu hidup-hidup. Sebenarnya dia itu baik, cuma dia itu agak ekstrim aja kalo nolong orang. Maafkan dia ya?”
“Ya, aku udah maafin dia kok. Waktu aku bertarung dengannya dia nangis sambil minta ampun gitu. Hahaha. Dia lucu banget menurutku.”
“Hahaha. Begitulah dia. Oh ya, dua temanmu itu selamat kok.”
“Ya, aku tahu. Peliharaanmu yang mengatakannya padaku.”
Angelica tersenyum, tak lama kemudian ia meluncur dari ketinggian sekitar 10 meter dan terbang menjauhi gedung asrama putri. Eliana sedikit berlari ke arah jendela dan ingin menanyakan tentang surat aneh itu tapi ia kalah cepat dengan Angelic.
“Haahh... Aku sebaiknya kembali tidur saja.”
Eliana berjalan pelan ke tempat tidurnya. Ia mulai merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai menutup kedua matanya. Beberapa detik kemudian ia membuka kedua matanya.
“Emy. Aku harus mencari Emy,” kata Eliana sembari bergegas pergi mencari Emy.
Di lain tempat, Emy sedang berjalan dengan kewaspadaan yang tinggi. Ia sering lihat kanan-kirinya berulang kali.
“Eliana..., kau ada di mana....”

‘KRESEK...KRESEK...’

Emy tercegat. “S-suara a-apa i-itu?....”
Perlahan-lahan Emy menggerakkan tubuhnya untuk mencari sumber suara. Kemudian suara itu kembali terdengar. Emy bergidik ngeri.
“Eliana kau di mana?!!” kata Emy dalam hati.

=================================================================
The Six Symbol Novel Indonesia and English Version
© Eni Hariani

Dilarang mengcopy-paste isi novel ini
=================================================================

“Aneh. Seharusnya ia tak terlalu jauh,” kata Eliana. “Apa aku harus
Iphone Eliana tiba-tiba berdering. Eliana pun segera merogoh saku jaketnya. Dibukanya kunci tombol Iphone-nya dan tertulis di sana nama Emy dengan jelas. Eliana pun menerima panggilan itu.
“Halo Eliana?”
“Emy? Kau ada di mana?”
“Aku...aku nggak tahu...”
“Lho kok nggak tahu?”
“Di sini gelap. Aku nggak bisa melihat apapun.”
“Kalau begitu, apa kamu ingat tempat terakhir sebelum kamu di sana?”
“....”
“Emy?”
“Aku takut...tolong aku Eliana.”
“Oke. Oke. Aku akan ke sana. Tapi kamu ada di mana?”
“Aku nggak tahu.”
“Baiklah. Terus nyalakan ponselmu biar aku bisa melacakmu dengan GPS-ku. Oke?”
“....”
“Emy?”
“....”
“Eeemy???”
Tak ada jawaban dari Emy. Eliana kemudian melihat layar Iphone-nya dan terlihat bahwa percakapan mereka masih berlanjut.
“Jangan bilang kalau dia...”
“Halo?”
“H-halo? Emy? Kamu ada
“Hm...jadi kau teman gadis berambut kuning ini ya?”
“Siapa kau?”
“Bukan siapa-siapa.”
“Apa maksudmu bukan siapa-siapa?”
Terdengar tawa kecil di seberang telpon.
“Apa yang kau tertawakan?”
“Aku menertawakan diriku.”
“Hah?”
“Aku senang sekali akhirnya bisa mendengar suaramu.”
“Berhentilah bercanda dan katakan di mana Emy?”
Tenang saja. Gadis berambut kuning ini baik-baik saja.”
“Aku tidak percaya.”
“Hm...? Kalau begitu, datanglah ke tempat latihan basket. Aku menunggumu di sana.”
“Oke.”

***

Eliana melebarkan pupil matanya selebar-lebarnya di tengah gelapnya malam. Berkali-kali layar Iphone-nya disentuhnya untuk membantunya menyusuri jalan ke gedung tempat latihan basket.
Eliana membuka pintu ruangan itu dan mencoba mencari stop kontak. Tak lama kemudian ruangan itu pun terang-benderang. Terlihat betapa bersih dan mengkilatnya ruangan itu. Tepat di tengah lapangan basket, ada seorang gadis duduk membelakangi Eliana. Eliana segera berlari dan memanggil nama gadis itu.
“Emy!”
Gadis itu membalikkan badannya. Wajahnya sembab dan kedua matanya bengkak.
“Eliana,” ucap gadis itu pelan.
“Eliana!” ujarnya lagi lebih keras dan berulang kali.
Eliana memeluk badan Emy yang bergemetaran. Eliana mencoba menenangkan kondisi Emy yang kacau balau.
“Eliana! Eliana! Eliana!” panggilnya histeris dalam pelukan Eliana.
“Jangan takut. Aku ada di sini.”
“Khukhukhu. Suasana yang sangat dramatis sekali,” ucap seorang perempuan sambil bertepuk tangan.
Eliana menoleh ke perempuan yang berada jauh di belakangnya.
“Siapa kau?” tanya Eliana.
“Bukan siapa-siapa.”
“Tak bisakah kau serius sedikit?”
“Bisa. Tapi itu membosankan.”
“Lebih membosankan berbicara dengan orang yang banyak gaya sepertimu.”
Ekspresi perempuan itu berubah menjadi serius. Nampaknya ia tersinggung dengan ucapan Eliana barusan. Kemudian perempuan itu menyeringai.
“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya Eliana.
The six symbol.
“Ohhh.... Aku punya salah satunya. Kau mau?” ujar Eliana sambil memunculkan sebuah pedang bermata dua di tangan kanannya.
Perempuan itu tersenyum. “Yes, I want it.”
Eliana menyeringai.
“Oke. Tapi kau harus melangkahi mayatku dulu baru kau bisa mendapatkannya,” ujar Eliana sambil menghilangkan pedang itu dari tangan kanannya.
“Kalau begitu, aku tak punya pilihan,” ujar perempuan itu. “Aku akan mengambilnya secara paksa!!!
Perempuan itu melesat ke arah Eliana dengan sebuah pedang panjang dan besar muncul di tangan kirinya. Perempuan itu meloncat ke atas dan bersiap mendarat tepat di atas Eliana. Eliana secara refleks mengendong tubuh Emy dan melesat melarikan diri.
Perempuan itu menarik pedangnya yang tadi cukup kuat membuat retakan di lapangan basket dan berlari lagi ke arah Eliana. Eliana meminta Emy untuk berpegangan lebih erat di tubuhnya dan Eliana melompat, berlari di antara tempat duduk dan melompat keluar menembus kaca gedung basket itu.
Eliana terus berlari sambil menggendong Emy layaknya pengantin baru ke tempat yang lebih aman. Eliana meletakkan tubuh Emy dan beristirahat sebentar. Emy menatap Eliana yang cukup kelelahan. Emy kemudian mengeluarkan tisu dari saku jaketnya dan ia mulai mengelap bulir-bulir keringat Eliana.
“Eliana, maafkan aku. Seandainya saja aku...
“Tidak.... Kau tidak...melakukan kesalahan..., Emy...,” potong Eliana dengan napas yang tersengal-sengal.
“Tapi itu kesalahanku Eliana. Seandainya aku menuruti perkataanmu, tentu kita tidak akan begini.”
Eliana tersenyum, berusaha membuat teman kecilnya itu tidak terlalu menyalahkan dirinya sendiri.

***

Malam ini bulan bersinar dengan terang. Eliana melihat jam pada Iphone-nya dan ternyata sudah hampir tengah malam. Eliana melihat ke samping di mana Emy kini tengah tidur bersandar di bahu kanannya. Eliana menyandarkan kepalanya dan mencoba untuk tidur.

‘KRIK...KRIK...KRIK...’

Eliana membuka kedua matanya. Memasang kedua telinganya untuk memastikan bunyi tadi hanyalah ilusi. Setelah berselang beberapa saat bunyi itu terdengar lagi. Tangan kanan Eliana mengguncang badan Emy.
“Hm?...Ada apa Eliana?” ujar Emy yang masih setengah bangun.
“Ayo kita pergi ke asrama.”
“Kenapa? Apa semua sudah aman?”
“Ya, semuanya sudah aman. Ayo.” Eliana menarik lengan kiri Emy agar ia berdiri.
“Aku masih mengantuk...,” keluh Emy.
“Kalau begitu naiklah ke punggungku. Aku akan memanggulmu hingga ke asrama.”
“Tak apa? Berat badanku bertambah loh...”
“Ya, tak apa. Ayo cepat. Cuaca di sini sudah semakin dingin.”
“Um...”
Emy dengan mata yang setengah terbuka dan jiwa yang setengah sadar, mencoba untuk naik ke punggung Eliana. Eliana pun ikut membantu temannya itu untuk bisa naik kepunggungnya dengan benar. Setelah itu, Eliana dengan mengendap-endap keluar dari samping gedung perpustakaan dan dengan secepat mungkin melesat ke asrama.
Suasana sekolah yang minim pencahayaan di malam hari, membuat Eliana ekstra hati-hati. Eliana mencoba menggunakan simbol ALFIERE untuk membantunya kembali ke asrama. Tapi karena kemampuan yang masih belum matang, Eliana hanya bisa memakai sebentar dan itupun hasilnya tidak jelas.
Eliana berhenti sejenak, membenar posisi Emy yang tertidur pulas di punggungnya, yang hampir jatuh. Kemudian Eliana mencoba lagi menggunakan simbol ALFIERE, alhasil kepala Eliana yang pusing.
“Ukh. Sial. Aku belum bisa mengendalikannya. Bagaimana ini?”
Di saat Eliana sedang sibuk berjalan pelan menyusuri tempat yang remang-remang, perempuan yang mengejar mereka berdua tadi datang dari arah belakang. Mengetahui itu Eliana pun segera berlari dan berusaha mengingat jalur yang ia tempuh saat ini.
“Ah, sial! Kenapa dia mesti datang sih?!” gerutu Eliana dalam hati.
Karena Eliana berlari sangat hati-hati, perempuan itu berhasil mengejar dan menghadang tepat di depan Eliana.
“Bingo!” ucap perempuan itu yang tak selang beberapa saat terdengar gelak tawa darinya yang membuat Eliana enggan mendengarnya.
“Kau tak bisa kemana-mana lagi. E-li-a-na No-va,” ujar perempuan itu senang sambil menyeringai, terkekeh di gelapnya malam.
“Sekarang saatnya kau menerima kematianmu, ELIANA NOVA,” ujar perempuan itu lagi sambil mengayunkan pedangnya ke arah Eliana.
Eliana dengan sigap menghindar sejauh mungkin. Belum sempat Eliana menyembunyikan Emy di tempat yang aman, perempuan itu datang menyerang. Eliana mengaktifkan simbol QUEEN untuk membantunya bertahan.
“Booodoh. Kau pikir, rantai murahan ini bisa menghadang pedangku, hah? JANGAN BERCANDA.”
“Che.”
“Hmph. Anak ini menarik.”
Perempuan itu menekan pedangnya ke arah Eliana dan Eliana terus menahan pedang itu dengan rantainya yang berputar teratur melindungi tubuhnya. Semakin kuat Eliana mempertahankan rantainya, semakin kuat pula perempuan itu mendorong pedangnya.
“Aku harus menemukan cara untuk memukulnya mundur,” ujar Eliana dalam hati.
“Hmmm. Dia lumayan juga sebagai penerus pemilik enam simbol. Dia bisa bertahan samapai detik ini. Tapi...”−perempuan itu menyeringai dan mendorong pedangnya ke depan lebih kuat lagi−“apakah benar dia bisa melampaui pengguna sebelumnya? Aku penasaran,” ucap perempuan itu dalam hati.
Eliana memperkuat daya penahan pada rantainya. Pikirannya terus berjalan menyusun strategi.
“Aku harus bisa melakukannya,” ucap Eliana dalam hati.
Eliana menapakkan tangan kanannya ke tanah, mengaktifkan simbol QUEEN di tangan kanannya. Eliana mencoba berkonsentrasi memberikan perintah pada rantainya untuk bergerak sesuai rencananya.
Sambil berkonsentrasi bertahan, Eliana juga berkonsentrasi untuk menyerang. Ini cukup menyulitkannya karena ia belum pernah melakukan dua tugas secara bersamaan. Tapi tak ada salahnya mencoba, begitulah yang dipikirkan oleh Eliana.
Eliana terus berusaha mencapai rencananya dan nampaknya perempuan itu menyadari rencana Eliana. Perempuan itu  memindah tangan yang memegang pedangnya ke tangan kanannya. Kemudian tangan kirinya mengeluarkan sebauh cakar-cakar yang tajam dan dikibaskan ke wajah Eliana dengan keras hingga rantai Eliana tak sanggup menahannya.
Eliana pun terlempar cukup jauh ke kiri. Perempuan itu menghilangkan pedang besarnya dan berjalan santai ke arah Eliana. Eliana bangkit dan mengusap darah yang mengucur dari luka di pipi kirinya.
“Pertarungan yang cukup menarik. Kau bisa menahan pedangku hanya dengan cara sesimpel itu dan kau tadi hampir saja berhasil menggerakkan rantaimu untuk menyerangku dari belakang. Aku sangat terpesona dengan rencanamu. Tapi...,” perempuan itu terus menghentikan langkahnya. “apakah kau kali ini bisa menahan seranganku yang selanjutnya?”
Sebuah aura hitam bercampur ungu gelap dan ungu terang keluar dari seluruh tubuh perempuan itu, mengepul menjadi memunculkan sebuah senjata yang sangat gelap,penuh kebencian dan amarah. Eliana meremas jari-jari tangan kanannya, menahan aura gelap itu.
“Mei...,” lirih Eliana.
Perempuan itu telah selesai memanggil senjata terkuatnya. Eliana pun sudah mengaktifkan simbol KNIGHT untuk membantunya bertarung. Perempuan itu bergerak lebih dulu. Eliana berfokus untuk bertahan dengan menggunakan simbol QUEEN yang diaktifkan di tangan kirinya. Perempuan itu terus menerus menyerang Eliana, berusaha menembus tembok rantai Eliana. Eliana apun tak mau kalah, ia terus bertahan sambil mempelajari gerakan perempuan itu bertarung.
Sebuah celah pun terlihat. Eliana kemudian melonggarkan sedikit pertahanannya untuk memperbesar celah itu. Dan dugaan Eliana benar, perempuan itu memanfaatkan pertahanan Eliana yang melonggar dan Eliana memanfaatkan gerakan perempuan itu saat perempuan itu mengayunkan pedanganya lebih keras lagi ke arah Eliana.

‘DUAAARRR’

“Hm? Suara apa itu? Apa Aji masih terjaga?”
Micky membuka kedua matanya.
“Hm? Gelap. Lalu tadi?”
Cahaya ungu bercampur merah muda terlihat. Micky segera bangun dari tidurnya dan segera membuka gorden jendela kamarnya.
“Ini...” Micky berjalan cepat ke tempat tidur Aji.
“Aji. Aji. Bangun. Mereka datang, Aji. Aji!!” ujar Micky sambil mengguncang tubuh Aji yang masih tertidur pulas.
Kedua mata emeraldnya membulat sempurna. “Ini...teratai hitam...SIAL!”
Pertarungan terus berlangsung. Gesekan antar dua pedang yang menimbulkan percikan api terus terdengar.Gerakan kedua petarung ini sangatlah lincah, mulai dari menangkis, menyerang, dan bertahan. Hanya satu permasalahan dalam pertarungan ini.
Eliana mulai kelelahan karena ini pertama kalinya ia bertarung seperti ini. Untuk pertama kalinya ia bertarung harus menggunakan kekuatan enam simbolnya dan saat ini ia langsung menggunakan dua simbol. Seperti yang kalian ketahui, seorang pemula bila melakukan dua tugas sekaligus pasti gelabakan. Ya seperti itulah yang dirasakan oleh Eliana. Walaupun ia sudah bertahun-tahun belajar ilmu bela diri dan ilmu pedang, itu tak membuatnya unggul dalam pertarungan ini.
“Hah? Apa cuma segini kemampuan seorang pengguna enam simbol? Cih! Memalukan!” olok perempuan itu yang diketahui bernama Mei, saat melihat Eliana yang sudah diambang batas kekuatannya.
“Terserah kau... mau bilang apa....” Eliana menancapkan pedangnya ke tanah dan berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Aku berjanji..., kalau aku...diberi kesempatan kedua...aku akan membayar kekalahanku....”
Mei menyeringai.
“Menarik. Aku jadi ingin mengujinya lagi. Lagi dan lagi.”
Mei tersenyum. “Sepertinya kau sudah diambang batasmu. Tapi tenang saja. Aku akan segera mengakhiri pertarungan ini dalam waktu sesingkat-singkatnya, Eliana.”
Mei menyeringai lagi.
“Eliana...,” ucap Emy pelan.
Do what you want,” ucap Eliana.
Emy terkejut mendengar ucapan Eliana barusan.
Mei menyeringai lebih lebar dan penuh kegembiraan, ia menyambut ucapan Eliana dengan pedang besarnya yang kini mulai berayun ke arah Eliana. Emy ingin menghentikan pertarungan ini namun tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun karena ia masih ketakutan.
“Kumohon, siapa saja selamatkan Eliana!!!” kata Emy dalam hati.

‘TRAAANG’

Bunyi dua pedang saling bertemu. Emy membuka kedua matanya dan bernapas lega melihat seorang pemuda tengah melindungi Eliana dari dewi pencabut nyawanya Eliana. Emy segera berterima kasih kepada Tuhan karena Ia telah mengabulkan doanya.
“Cukup sampai di sini permainanmu,” ucap Micky yang menolong Eliana dari eksekusi kematiannya.
“Che. Marionette,” umpat Mei.

‘BRUK’

Tubuh Eliana menyentuh tanah. Pedang di tangan kanannya menghilang tak berbekas bersamaan dengan menghilangnya simbol kepala kuda dan dua pedang yang saling bersilangan di punggung tangan kanannya.
Pertarungan pun dilanjutkan antara Mei dan Micky. Mereka berdua berpindah ke tempat yang lebih pantas dan aman. Setelah keduanya pergi, Emy segera menghampiri Eliana yang kini tak sadarkan diri.
Tubuh Eliana sangat panas dan napasnya terasa panas. Emy mengangkat kepala Eliana ke dalam pangkuannya dan mencoba mengurangi demam pada tubuh Eliana. Tak lama kemudian datanglah seseorang dengan sebuah senter di tangan kanannya. Emy mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang.
“Maaf, aku terlambat,” ujar Aji dengan napas yang tersengal-sengal.
Emy kemudian tersenyum dan mengucurkan air mata. Aji jadi bingung melihat tingkah Emy.




=================================================================
   BACK                               MAIN MENU                                  NEXT
=================================================================

The Six Symbol Novel Indonesia and English Version
© Eni Hariani


Dilarang mengcopy-paste isi novel ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar